Singapore Art Museum

Beberapa hari belakangan, kami sering ngobrol tentang betapa ‘kering’ nya Singapura. Bukannya kami gak suka atau gak betah hidup disini, bukan. Cuma, setelah bolak-balik, keluar masuk deretan mal di Orchard, main ke kawasan Marina, takjub dengan Aquarium raksasa dan melihat betapa banyak kecanggihan dan kemodernan yang ada, kami berpendapat bahwa, iya Singapura sangat modern, canggih, bersih dan nyaman. Engineer nya pasti canggih-canggih. Mesin yang dipake pasti mesin super canggih. Tapi rasanya kayak ada yang kurang gitu :p Kayak makan bakso gak pake micin. Enak tapi kurang nendang! Bapak menuliskannya lebih baik disini.

Hari Senin lalu, kami main ke Singapore Art Museum. Tadinya gak mau berharap terlalu banyak juga. Pertama, saya gak suka nontonin lukisan lama-lama. Saya bukan orang seni yang mengerti gimana sebaiknya menggambar. Saya cuma tau itu bagus apa enggak. Kedua, kata-kata museum bikin saya gak yakin juga sih, museum identik dengan boring dan tua. Jadi beneran pergi kesana gak berharap banyak. Cuma karena Bapak pengen banget, yasudahlah.

Perjalanan kesana seperti biasa, gampang. Stop di MRT Station Bras Basah, take exit A begitu keluar nengok ke kiri disanalah dia berada. Bangunan kuno yang ih-yaampun-cantik-banget. Sekelilingnya juga bukan gedung tinggi menjulang seperti layaknya di sudut-sudut Singapura. Langsung nyesel seketika karena gak bawa kamera. Tambah nyesel lagi karena begitu masuk, ternyata diperbolehkan bawa kamera. Diperbolehkan mengambil gambar tapi tanpa flash. Asli, itu bangunan bagus banget. Memang udah dipoles sana-sini jadi lebih cantik dan modern. Tapi sama sekali gak mengurangi keanggunan bangunan aslinya.

Ternyata juga, saya salah. Salah besar! Karena ternyata yang dipajang di sana bukan hanya lukisan aja, tapi segala macem produk seni yang dibuat di berbagai medium. Setiap nontonin cuma bisa melongo. Cuma ada dua kata. Bagus banget dan bagus banget banget! Bukan mau sok ‘seni’. Tapi saya gampang banget tersentuh sama orang yang ‘memproduksi’ sesuatu dengan hati. Karena saya yakin di setiap proses produksi itu ada ide, semangat dan ketekunan yang luar biasa. Orang-orang begitu yang bikin hati hangat, sedikit-sedikit juga ngasih semangat ke saya sendiri.

Xu Bing. The Living World. 2001 Ryf Zaini. 2013 Eko Nugroho. 2007. Illusion. Embroidery. Aisha Kalid. 2010. Appear as you are. Be as you appear.

Ada beberapa karya keren bikinan Eko Nugroho. Usut punya usut, ternyata beliau lulusan ISI Jogja. Kata mas Farid, beliau ini udah dianggap nabi sama artist-artist. Udah artist tingkat wahid yang keliling dunia residensi dimana-mana. Beberapa teman membenarkan hal tersebut. Panutan gitu lah pokoknya. Hihihi.

Setelah puas keliling-keliling, kami nongkrong-nongkrong cantik di cafe yang ada di lantai dasar. Menikmati kopi dan sup jamur lengkap sama garlic bread. Untuk pertama kalinya, saya ketemu waiter, Chinese, yang bahasa inggris nya bukan singlish *oke ini gak penting* :p

Kami lalu pulang dengan senang. Rasanya, hati kayak abis disiram, sejuk. We’ve finally found something ‘sweet’ and ‘sweat’ here in Singapore. Will definitely visit this place again!

 

 

  1. Nina Rahmaizar 20/02/2013 at 3:31 am

    Wuaaah thx u mbak, udah buat post tentang SAM
    Udah berkali2 main ke spore suka males mau ke sana, karena nama depannya museum yg kebayang ya itu tadi hal2 yang berbau “tua” ternyata nggak sama sekali yaa 😀

    Btw, salam kenal 🙂

    1. misskepik 20/02/2013 at 3:52 am

      Sama-sama 😀
      Salam kenal juga ya 🙂

Comments are closed.