My Husband got Infected with the Virus

Life update.

Dwi is Covid19 positive.

Karena banyak yang tanya, dan sering saya abaikan karena tidak punya waktu untuk menjawab satu-satu, maka saya cerita di post ini saja.

FAQ:

Kok bisa?

Takdir mas/mbak. Hahaha.

Bener deh, agak bingung kalo mau jawab ini. Mungkin kita semua at some points sudah terpapar ya. Karena memang virusnya cepat dan mudah sekali menyebar. Waktu itu Singapore belum mengimplementasikan Circuit Breaker. Kami masih bebas bergerak dengan hati-hati dan beberapa aturan dari pemerintah. Tapi kami sudah sangat mengurangi kegiatan di luar. Dwi sudah mulai kerja dari rumah. Hanya Lemon yang masih aktif ke sekolah, karena memang waktu itu sekolah belum ditutup.

Dia dinyatakan Covid19 positive sejak 5 April 2020. Alhamdulillah tidak ‘parah’, very mild symptoms, hanya demam sampai 38.6° dan sedikit batuk kering.

He was perfectly fit, hanya memang sudah seminggu kurang tidur karena urusan kantor. Hari Jumat tanggal 3 April, Dwi dihubungi Ministry of Health (MoH) mereka bilang Dwi ada kontak dengan confirmed case. Lalu ditanya, ada symptoms ga? Dia jawab ga ada hanya sedikit sore throat. Karena ada sore throat inilah kemudian dia dibawa ke NCID untuk swab test dan xray.

Alhamdulillah, paru bersih tidak ada pneumonia, lalu dia diperbolehkan pulang dan harus serve Quarantine Order, lapor temperatur 3 kali sehari ke MoH (mereka biasanya video call) sampai tgl 8 April.

Kalo ditarik 14 hari ke belakang dari tanggal 8 April, ada beberapa kali dia keluar rumah. Diantaranya, ke supermarket anter saya belanja, ke chiro anter saya juga, ke barbershop langganan dan sempet ke kantor sebentar karena perlu banget. Dari semua itu, kami tidak bertemu teman/kolega yang sakit. Kalo Dwi sampai ditelepon berarti kan si confirmed case ini kenal Dwi ya, karena dia memasukkan data Dwi ke contact tracer.  Karena gak ada teman/kolega nya yang positive, maka kami menyimpulkan sendiri, sepertinya dia terdeteksi lewat TraceTogether, aplikasi yang dibuat pemerintah untuk memudahkan contact tracing. Berarti dari beberapa kali dia keluar itu, dia sempet ada di deket orang yang terinfeksi dalam jangka waktu yang agak lama sehingga aplikasinya merekam keberadaan Dwi waktu itu. Jadi, waktu orangnya confirmed positive, data di aplikasinya ditarik, ada data Dwi di situ.

Jumat malam dia pulang. Masih sehat, hanya mulai pilek. Katanya, rumah sakitnya dingin banget. Dia memang gak tahan AC dingin. pasti jadinya batuk pilek dan bersin.

Sabtu pagi, dia mulai demam, kemudian siangnya naik hingga sekitar 37.8°. Perintah dari officer yang menangani Quarantine Order, kalo suhu badan nya sampai 37.5° harus langsung lapor. Maka kemudian dia lapor dan dijemput ambulans lagi untuk swab test ulang. Sampai di rumah sakit, dia diberitahu kalo hasil tes pertamanya negatif. Tapi karena ada demam, maka dites ulang. Malamnya dia pulang, masih agak demam tapi membaik.

Dan begitulah, Minggu tanggal 5 April, hasil tes kedua keluar, unfortunately kali ini hasilnya positif. Gak lama, ambulans datang dan membawanya ke NCID.

Karena kondisinya tidak parah, positive with a very mild symptoms, dia menginap di NCID sekitar 6 malam. Setelah itu, hingga hari ini, dia masih ada di Community Isolation Facilities yang di EXPO. Sudah sehat, tapi masih positif. Gimana biar bisa pulang? Harus tunggu hasil swab test negatif dua kali berturut-turut. Jadi, selama mereka ada di isolasi, setiap hari keempat mereka akan swab test. Kalo hasilnya negatif, besok paginya akan ditelepon MoH untuk ikut swab di hari itu. Tapi kalo gak ada telepon berarti ya masih positif dan harus tunggu 4 hari lagi untuk swab lagi. Begitu terus sampai ada hasilnya. No wonder, angka pasien yang dinyatakan sembuh dan discharged setiap harinya sedikit sekali jika dibandingkan dengan angka pasien yang terinfeksi. Tapi angka kasus positif yang tinggi ini dimaklumi karena memang Singapore menjalankan massive swab test. Apalagi karena akhir-akhir ini kasusnya dari dormitories, jadi mereka melakukan sebanyak mungkin swab test. Menurut informasi terakhir, ada lebih dari 8000 tes setiap harinya. Gak heran kalo jumlah confirmed case nya pun naik drastis. Simply karena yang dites juga banyak, yang ketauan positif even without any symptoms juga banyak.

Sampai tanggal 27 April, data menunjukkan seperti ini:

Total cases: 14,423
– Hospitalised: 1,451 (20 in ICU)
– In community facilities: 11,863
– Fatalities: 14
– Total discharged: 1,095 (Discharged today: 35)

Nah, dari 11,863 yang ada di isolation itu memang kebanyakan dari foreign workers yang tinggal di dormitories. Hampir semua kasusnya positif tanpa symptoms sehingga mereka langsung masuk ke Community Isolation, tanpa lewat rumah sakit.

Ini hari ke 24 Dwi tidak di rumah. Susah betul rasanya. Helpless karena di lokasi isolation tidak ada personel yang bisa dimintai keterangan mengenai kondisi kesehatan. Jadi ya cuma nunggu jadwal swab aja terus. Frustasi. Saya pun gak tega karena dia gak bisa kena matahari, gak bisa liat dunia luar, makanannya terjamin tapi mungkin gak pas di lidahnya dan tidur gak nyenyak. Walaupun semua diurus sama pemerintah, tapi bagian frustasi karena tidak punya cukup informasi ini yang bikin helpless untuk kami berdua.

Lalu, saya dan Lemon, gimana?

Alhamdulillah sehat, kami selesai serving our Quarantine Order tgl 19 April. MoH cek temperature kami via video call 3 kali sehari. Alhamdulillah banget kami sehat padahal most likely sudah terpapar sama virusnya kan. Selama 14 hari itu memang saya cemas, takut badan gak kuat dan terinfeksi. Tapi alhamdulillah dikasih sehat, disayang, diperhatikan dan dikirimi makanan terus-terusan sama teman-teman. Allah kirim mereka untuk jaga kami.

Kira-kira update hidup kami di awal tahun 2020. Stay safe stay healthy semuanya, semoga kita bisa melewati masa ini dengan baik.