#MENUJU4TH Apa Kata Bapak

Rencananya sih mau menyiapkan rangkaian cerita menuju ulang tahun L yang keempat, akhir Desember besok. Rencananya lho ya, karena kadang ide cerita ada tapi kemampuan gak ada :p Mari kita mulai dengan yang ini dulu.

Jadi ceritanya saya lagi blogwalking. Hal yang sudah lama tidak saya lakukan. Entah darimana awalnya, saya nyasar ke blog mbak ini. Namanya gak asing sepertinya, sering berseliweran di akun-akun media sosial teman-teman saya. Salam kenal mbak 😀

Well, anyway. Saya langsung kirim tautannya ke D dan minta dia jawab. Walaupun rasanya kami sering sekali membicarakan hal ini, tapi mungkin akan sedikit berbeda jika dituliskan. Memang sih hasilnya jadi agak lebih drama dan mendayu-dayu :p

Here we go!

  1. Apa yang pertama kali kepikiran saat anak baru lahir?

“Kok aneh? kok gak seperti bayi-bayi yang di tv?”

  1. Were you prepared?

Not at all

Kehamilan L adalah kehamilan pertama dan istimewa buat kami. Sangat berbeda dari yang diceritakan orang-orang; mual-mual tiga bulan pertama, tetap cantik, dan sehat sentosa hingga masa melahirkan. Kenyataanya, A muntah-muntah hebat bahkan ketika minum air putih, selama kehamilan, bahkan hingga sesudah melahirkan pun dia masih muntah. Hyperemesis dan SPD. Kombinasi yang klop untuk membuatnya tidak berdaya. Waktu itu saya hanya memikirkan bagaimana Ibunya survived.

Kondisi itu ditambah lagi dengan saya yang kehilangan pekerjaan ketika kehamilan L masuk usia tiga bulan. Kantor di Indonesia ditutup karena sudah tidak menghasilkan apa-apa lagi, perusahaan akan fokus di Vietnam dan masih menjalankan kantor pusat di Singapura. Perusahaan juga tidak memberikan severance package yang cukup, tidak juga menawarkan relokasi ke Vietnam atau Singapura meskipun tim yang saya pimpin waktu itu menghasilkan berpuluh-puluh ribu dollar per bulan bahkan hingga bulan terakhir kami bekerja.

Jadi kalau dibikin film, ini adalah masa-masa di mana scene harus dibikin fast moving, campur aduk antara istri yang hamil tidak seperti orang kebanyakan, pergi interview ke mana-mana tanpa hasil, diselingi mengajar kursus selama belum dapat kerjaan, mencari kontrakan yang masih terjangkau dan cukup nyaman … sound effect dengan lagu-lagu Idiotape.

  1. Dalam waktu 4 tahun, apa hal yang paling memorable?

Gak ada yang spesifik, tapi selalu kagum melihat L bisa melakukan ini itu, bisa ngomong dua bahasa, bisa nyanyi, bisa balet, belajar hal-hal baru. L ini adalah seorang pemerhati, dia memperhatikan detail setiap hal. Dia bisa menyimpan pengalamannya sendiri kemudian diterapkan di kejadian lain tanpa kami suruh atau ajari.

  1. Apa memori favorit kamu tentang L?

Banyak. Salah satunya, saya suka sekali memandangi L tidur. Rasanya damai, dan kagum, kok dia sudah besar?

  1. What’s your favourite thing about being a dad?

Merasa lebih berguna, ada tanggung jawab lebih. Mungkin di sini bisa saya cuplik ucapan Martin Luther King Jr “If a man has not discovered something that he will die for, he isn’t fit to live.”. Di kasus saya, saya sudah menemukan “something to die for”, keluarga saya.

Menjadi orang tua membuat saya belajar banyak, lebih membuat saya diam, berhati-hati, memikirkan orang lain, dan lebih fokus dalam melakukan segala sesuatu. Misalnya, dulu ketika melihat orang yang berkata-kata bodoh, saya akan serta-merta mengatainya “Bodoh lu!” dan segala caci maki yang saya rasa pantas dia dapatkan. Setelah memiliki seorang anak, saya lebih banyak diam, take a few steps back and think “Mungkin dia berlaku begitu karena beberapa alasan yang saya tidak ketahui”. Saya tidak ingin anak saya kelak berlaku bodoh lalu dicaci-maki seperti saya mencaci-maki orang lain.

Pelajaran lain dari “take a few steps back and think” adalah saya bisa mengerti orang lain lebih baik; saya lebih suka menjadi orang terbuka dan menjauhi sifat-sifat prejudice dan lebih memahami latar belakang orang lain: karena saya ingin orang-orang juga menerima anak saya kelak, apa pun keadaannya.

Makanya akhir-akhir ini saya suka miris melihat bencandaan dengan subjek perempuan (karena anak saya juga perempuan), saya tidak suka melihat itu karena saya gak pengen hal-hal jelek itu kejadian di anak saya. Mungkin di sini saya belajar tentang konsep karma, apa yang saya tanamkan ke anak saya dengan baik, maka hasilnya pun akan baik, demikian pula sebaliknya.

  1. Apa hal paling memorable dari masa kecil yang ingin diulang ke anak?

Kehidupan di desa: ikut pergi ke sawah, mandi di kali, nyari ikan uceng dan makan bekal di pinggir kali.

  1. Visi buat anak?

Lakukan hal yang kamu suka.

  1. Apa yang ingin kamu lakukan bersama anak saat dia sudah besar?

Mancing bareng, naik motor bareng touring di jalanan Jawa Tengah.

  1. Apa yang mau kamu tanamkan ke anak?

Jujur kepada diri sendiri.

  1. What parts of yourself do you hope L ends up with?

Reliable.

  1. If you could do this all over again, what would you change?

Saya ingin diri saya yang sekarang menjadi orang yang menikahi istri saya saat itu, sehingga saya bisa mempersiapkan kelahiran L dengan lebih baik.

HAHAHAHA. Sempet amat masukin link youtube.

Cerita kelahiran L memang selalu akan diceritakan dengan agak masam. Tapi syukurlah itu semua sudah lewat dan memberikan pelajaran yang berarti untuk kami berdua. Melihat jawaban nomor 11, duh Pak, saya sih sudah bersyukur waktu itu kita bisa ngelewatin masa-masa prihatin bareng-bareng. Bersyukur sekalli dengan kondisi yang super minimal, L bisa lahir dengan sehat dan sampai sekarang tumbuh dengan baik.

DL

  1. SazkiaGhazi 01/12/2014 at 11:32 am

    The upside down phase of life itu memang seru kalau ditulis, ya.. :’) sebentar lagi 4 tahun, ya, L!! Sehat terussss =*

  2. Putri 03/12/2014 at 8:33 am

    alhamdllh….. kunjungan perdana ni, salam perkenalan ya bu ^_^

Comments are closed.