Anniversary Date: Riders Cafe

Perayaan ulang tahun perkawinan kami tahun ini agak sedikit spesial. Spesial karena kondisi rumah tangga kami udah jauh beda sama tahun lalu. Sekarang kami bener-bener hidup bertigaan doang. Tanpa campur tangan keajaiban bantuan mbak Dati dan mbak Lilik :p Semua sudah berbeza. Gue yang dulu mau apa-apa tinggal bilang, sekarang harus apa-apa sendiri. Sesimple nyiapin diaper bag Lemon kalo mau bepergian aja, musti sendiri. Dulu kalo mo pergi, tinggal bilang sama mbak Lilik dan mbak Dati dan semuanya udah siap dalam sekejap mata. Gue tinggal mandi dan siap-siap buat diri sendiri aja. Itu cuma salah satu contoh ‘hidup mandiri’ versi gue di tahun ini. Sejak kepindahan kami ke negara seuprit yang serba teratur ini, hidup kami berubah. Seperti yang dikatakan ybs di postingan ini, yang paling berharga dari perjalanan perkawinan kami tahun ini adalah: waktu.

I wont tell you menye-menye stories about how we passed this third year. Biarkanlah itu menjadi kenangan *tsaah. Yang penting, now I can shout out that everything has changed since then and I’m glad we’re still here, together, no matter what ๐Ÿ˜€

Skip bagian menye-menye, let’s talk about the anniversary date itself.

Beberapa hari sebelum ulang tahun, kami, tentu saja, masih meributkan dan memperdebatkan tanggal pernikahan kami. Setiap tahun kami selalu salah menerka. Payah ya. Pokoknya kalo gak tanggal 10 ya tanggal 11! Biasanya setelah perbincangan itu, kami selalu mencari tahu tanggal ulang tahun Magelang dengan google. Samaan soalnya tanggalnya. Entah ini kutukan atau apa, tapi kami selalu gak yakin gini deh ah sama tanggal kawin sendiri. Tahun lalu, lebih parah lagi. Digempur hebatnya kerjaan kantor yang unstoppable, kami sama-sama lupa. Malam itu sekitar jam 8 malam waktu BSD, kami berencana makan malam di Bebek Kaleyo. Setelah berkeluh kesah tentang kerjaan seharian di sepanjang perjalanan, sampai di parkiran Bapak mengingatkan kalo hari itu adalah hari ulang tahun perkawinan. Setelah peluk-pelukan beberapa saat, kami baru sadar kalo itu baru tanggal 9! Bapak ingetnya itu tanggal 10! Iiiih, salah kabeeeeh! Malu! Diketawain tukang parkir. Paginya, di kantor, gue abis di ceng ceng in sama temen-temen, sebelum mereka minta pajak makan-makan. Maka, belajar dari kesalahan tahun lalu, tahun ini kami mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari, Memastikan tanggal dan Bapak berencana cuti di hari tersebut. Aneh memang ini ya, maap ya. Musti cantumin diย calendarย nih, pasang notifikasi kalo perlu biar tiap tahun gak usah ribet ngedebatin tanggal 10 atau tanggal 11.

Tanggal 10 malam, sekitar jam 9.00, kami pergi ke causeway points buat beli kue. Cuma beli kue trus pulang lagi. Sampe rumah, nidurin Lemon dan menunggu jam 12 malam. Tepat jam 12 malam, kami tiup lilin dan makan kue. Tidak lupa cipika cipiki dan berdoa. Sounds cheesy but who cares ๐Ÿ˜€

Pagi tanggal 11, kami pergi ke Riders Cafe. Sebuah cafe kecil di daerah Bukit Timah. Nemu cafe ini setelah browsing kesana kemari nyari cafe asik yang bisa buat brunch. Kalo dari review nya, makanan di cafe ini enak. Plus nya adalah, cafe ini terletak inside the saddle club. Jadi sambil makan, bisa sambil nontonin orang naik kuda ๐Ÿ˜€

Sayang, kami kesana pas weekdays, jadi cuma liat satu orang aja yang lagi mandiin kudanya. Tapi seru! Lemon takjub ngeliat kuda dimandiin. Gak henti-hentinya dia bilang ‘look! kuda! mandi!’

Perjalanannya aja sih ya yang agak repot. Karena tempatnya agak jauh dari jalan besar, untuk mencapai kesana cuma ada dua pilihan. Naik MRT/Bus kemudian jalan kaki sekitar 1,5 KM atau langsung naik taksi. Kami memilih yang kedua. Walaupun ternyata uncle taksi yang kita stop in kebanyakan gak mau anter kesana. Sebeul.

 

Perjalanan kesana sekitar 20 menit aja. Udah lumayan jauh tuh ya, mengingat gak pake macet. Sampe disana, langsung dapet meja karena gue udah reserve sebelumnya. Kalo diliat di review, kebanyakan orang pada nge reserve duluan soalnya kalo pas penuh, waiting time nya bisa sampe 45 menit. Orang-orang yang dateng kesitu bukan cuma buat makan, tapi juga ngobrol-ngobrol lamaaa gitu.

The food was actually good. Sayangnya udah gak dapet menu brunch nya, padahal itu yang tersohor. Meskipun demikian, we still love the cafe. Rasanya kayak keluar dari Singapura. Makan di tengah-tengah padang pacuan kuda dengan udara sejuk dan jauh dari jalan raya. Pelayanan nya ramah dan cepet. Kalo gak inget-inget taksi susah, kami pasti akan balik kesini lagi.

And that was all! Setelah kenyang makan, ngobrol dan ngegambar, kami pulang. Meneruskan perjalanan ke Orchard buat ketemu teman. In short, that was the best anniversary date so far. Kenyataan bahwa masih banyak cita-cita yang belum kesampaian, kenyataan bahwa kita hidup bukan hanya untuk keluarga kecil kita, kadang pusing, kadang sedih ampun-ampunan tapi semua kondisi, semua yang sekarang ada are the best gift I’ve ever received. I feel grateful to be more mature than yesterday. Thank you husband, for making my dreams come true ๐Ÿ˜€

 

2 Comments

  1. Le Bapak April 19, 2013 at 6:42 am

    Let’s work together to make our dreams come true. Thank you for always be there. Buuuutttt before that … itu nama cafenya Riders Cafe bukan Ridders Cafe memee … *jewer*

    1. misskepik April 19, 2013 at 7:01 am

      oh iya, maap kilap

Leave a Reply